Archive for the ‘AQIDAH TAUHID’ Category

HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN DIKUBURAN

HUKUM MEMBACA AL-QURAN

DI ATAS KUBURAN

(Ustadz Badrusalam, Lc)

Sebelum kita membahas hukum membaca Al Qu’an di kuburan, baiknya kita bahas dahulu hukum menghadiahkan bacaan Al Qur’an kepada mayat: Para ulama berbeda pendapat, apakah menghadiahkan bacaan Al Qur’an kepada mayat sampai atau tidak?

PENDAPAT PERTAMA

Madzhab hanbali, hanafi, salah satu riwayat dari imam Asy Syafi’I, dan pendapat ulama terakhir dari madzhab Maliki dan sebagian Syafi’iyah berpendapat bahwa menghadiahkan bacaab Al Qur’an akan sampai kepada mayat, Al Bahuti berkata: “Imam Ahmad mengatakan bahwa sampai kepada mayat semua kebaikan, berdasarkan nash-nash yang menunjukkan kepada hal itu, juga karena manusia di negeri-negeri berkumpul membaca Al Qur’an untuk dihadiahkan kepada mayat tanpa pengingkaran, sehingga menjadi ijma’ mereka”. (Hasyiat ibnu Abidin 1/605).

Mereka berdalil dengan beberapa dalil :

Dalil Pertama

Hadits-hadits yang menyebutkan sampainya do’a, pahala shadaqah, haji dan puasa, maka diqiyaskan kepadanya bacaan Al Qur’an dan amal shalih lainnya.

Dalil Kedua

Hadits Ma’qil bin Yasaar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ.

“Bacakanlah Yasin kepada mayat-mayat kamu”. (HR Abu Daud dan lainnya).

Namun hadits ini lemah, karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Abu ‘Utsman bukan An Nahdi dan ayahnya, keduanya perawi yang majhul. Dan sanadnya juga mudltharib karena sebagian perawi meriwayatkan dari Abu Utsman dari ayahnya dan sebagian lain dari Abu ‘Utsman dari Ma’qil. (Irwaul ghalil 3/151 no 688). Adapun perkataan Al Maqdisi: “Hadits hasan gharib”. Adalah perkataan yang jauh dari kebenaran sebagaimana kita lihat.

PENDAPAT KEDUA

Sedangkan madzhab Maliki dan yang masyhur dari imam Asy Syafi’I menyatakan bahwa bacaan Al Qur’an untuk mayat tidak akan sampai.

Dasarnya adalah tidak adanya praktek dari Rasulullah dan para shahabatnya bahwa mereka menghadiahkan bacaan Al Qur’an untuk mayat, padahal para shahabat yang meninggal di zaman Nabi amat banyak. Kalaulah itu sampai dan bermanfaat untuk mayat, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengajarkannya kepada umatnya, terlebih beliau amat sayang kepada umatnya sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Kepada kaum mukminin beliau amat lembut dan penyayang”.

(At Taubah: 128).

Adapun qiyas kepada shadaqah, haji dan puasa adalah qiyas dalam masalah ibadah, sedangkan qiyas dalam masalah ibadah adalah qiyas yang batil. Dan inilah yang dirajihkan oleh Al Hafidz ibnu Katsir dari kalangan Syafi’iyah, beliau berkata dalam tafsir surat An Najm ayat 39:

“Dari ayat yang mulia ini, imam Asy Syafi’I dan pengikutnya beristinbath bahwa bacaan Al Qur’an tidak akan sampai kepada mayat. Karena itu bukanlah amal mayat bukan juga usahanya, dan Rasulullah tidak pernah menyunnahkan kepada umatnya, tidak juga menganjurkan, atau membimbing kepadanya, baik dengan nash maupun isyarat. Dan tidak pernah dinukil juga dari seorang sahabatpun. Kalaulah itu baik, tentu mereka akan mendahuluinya. Dan bab Al Qurubat (ibadah) hanya terbatas pada nash (dalil), tidak berlaku padanya qiyas dan ra’yu. Adapun do’a dan shadaqah, maka telah disepakati sampainya kepada mayat, dan ditunjukkan oleh nash syari’at”. (Tafsir ibnu Katsir 7/356-357 tahqiq Haani Al Haj).

Dan inilah pendapat yang rajih, karena kalaulah qiyas kepada shadaqah, haji dan puasa serta do’a itu diterima, tentu telah diamalkan oleh Rasulullah dan para shahabatnya, atau setidaknya Nabi mengajarkan dan menganjurkannya, namun semua itu tidak ada, kalaulah seorang penuntut ilmu mencari prakteknya dari Nabi sepanjang umur Nabi Nuh, ia tidak akan mendapatkannya, kecuali bila ia mau berani berdusta. Adapun yang dinisbatkan kepada shahabat yang menganjurkan membaca Al Qur’an di kuburan adalah tidak shahih sebagaimana akan kita jelaskan.

Dan klaim Al Bahuti bahwa ini adalah ijma’, karena manusia di negeri-negeri berkumpul membaca Al Qur’an untuk dihadiahkan kepada mayat tanpa pengingkaran, sehingga menjadi ijma’ mereka, adalah klaim yang tertolak, karena khilaf dalam masalah ini masyhur. Sedangkan kaidah yang harus difahami adalah: bahwa dalam masalah khilafiyah, kita tidak boleh berhujjah dengan pendapat ulama, hujah kita adalah Al Qur’an dan sunnah.

“HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN DIATAS KUBURAN”

Setelah kita memaparkan hukum menghadiahkan bacaan Al Qur’an, kita lanjutkan dengan pembahasan hukum membaca Al Qur’an di kuburan. Sayyid Sabiq berkata dalam fiqih sunnah: “Para fuqaha berselisih mengenai hukum membaca Al Qur’an di kuburan; Asy Syafi’I dan Muhammad bin Al Hasan berpendapat sunnah agar memberikan keberkahan padanya, dan disetujui oleh Al Qadli ‘Iyadl dan Al Qarafi dari Malikiyah, dan Ahmad memandang tidak apa-apa”. (Fiqih sunnah 1/559).

Al Khallaal meriwayat dari jalan Rouh bin Al Faraj dari Al Hasan bin Ash Shobbah ia berkata: “Aku bertanya kepada Asy Safi’i tentang membaca di sisi kuburan? Beliau menjawab: “Tidak apa-apa”. (Al Qiraah ‘indal qubur 1/7 no 6).

Namun Syaikhul islam ibnu Taimiyah meragukan keabsahan riwayat dari imam Asy Syafi’i, beliau berkata dalam kitab iqtidla (1/380 tahqiq Muhammad Hamid Al Faqi): “Tidak mahfudz dari Asy Syafi’I sendiri pembicaraan dalam masalah ini, karena yang demikian itu menurutnya adalah bid’ah, dan Malik berkata: “Aku tidak mengetahui seorangpun yang melakukannya”.

Dan pernyataan Sayyid Sabiq bahwa imam Ahmad memandang tidak apa-apa, bertentangan dengan yang diriwayatkan oleh Abu Dawud darinya dalam kitab masailnya (hal 158), beliau berkata: “Aku mendengar Ahmad ditanya tentang membaca (Al Qur’an) dikuburan? Beliau menjawab: “Tidak boleh”.

Namun ada riwayat yang menyebutkan bahwa Imam Ahmad rujuk darinya, yaitu yang diriwayatkan oleh Al Khallaal akhbarani Al Hasan bin Ahmad Al Warraq haddatsana Ali bin Musa Al Haddaad: “Aku bersama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al jauhari pada suatu janazah, ketika mayat telah dikuburkan, ada seorang lelaki buta duduk membaca Al Qur’an di sisi kubur, maka imam Ahmad berkata kepadanya: “Wahai, sesungguhnya membaca di kuburan adalah bid’ah”. Ketika kami telah keluar dari perkuburan, Muhammad bin Qudamah berkata kepada Ahmad bin Hanbal: “Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu mengenai Mubasyir Al halabi?” Ia menjawab: “Tsiqah”. Muhammad berkata: “Apakah engkau menulis sesuatu darinya?” Ia menjawab: “Ya”. Muhammad berkata: “Mubasyir mengabarkan dari Abdurrahman bin Al ‘Alaa bin Al ‘Alaa bin Al Lajlaaj dari ayahnya bahwa ia mewasiatkan apabila telah dikubur, agar dibacakan di kepalanya permulaan surat Al Baqarah dan akhirnya, dan berkata: “Aku mendengar ibnu Umar berwasiat demikian”. Maka Ahmad berkata kepadanya: “Kembalilah, dan katakan kepada orang buta itu: “Bacalah kembali”.

Akan tetapi hikayat ini tidak shahih, karena Al Hasan bin Ahmad Al Warraaq tidak diketahui siapa ia (majhul), demikian juga Ali bin Musa Al haddaad. Sehingga tidak dapat mengalahkan kekuatan riwayat Abu Dawud di atas. (Lihat Ahkaamul janaiz hal 243-245).



Continue reading