Archive for May, 2010

KAJIAN ILMIYAH BERSAMA USTADZ DZULQARNAIN

Kajian Islam Ilmiyah

(sumber : infokajiansalaf.blogspot.com)

IKUTILAH
“KAJIAN ISLAM ILMIYAH”
(Membahas Kitab-Kitab Ulama Ahlussunnah)


BERSAMA

“Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi”
(Mudir Ponpes As-Sunnah makasar)


INSYA ALLAH DILAKSANAKAN PADA

Tanggal 28 s/d 30 Mei 2010
Jam 08:30 s/d Selesai
Bertempat Di Masjid Al-Madinah
Kulon Kopo Cepogo Boyolali
MEMBEDAH KITAB

KITAB ASY-SYARI’AH
(Menetapkan Sifat Tertawa Bagi Allah)

KITAB BULUGHUL MARAAM
(Syarat-Syarat Sahnya Sholat)

AQIDAH IMAM AS-SYAFI’I


PENYELENGGARA

Yayasan Al-Madinah Surakarta
Takmir Masjid Al-Madinah Cepogo


DIDUKUNG OLEH

Percetakan Mitra Grafika
Oslo Computama
Samsi Computer
Majalah An-Nashihah

MEMBEDAH AKAR JARINGAN TERORIS AL-QAIDAH



MEMBEDAH AKAR JARINGAN
TERORIS AL-QAIDAH

[Sumber : al-qiyamah.net]


(Ustadz Abdurrahman Toyyib, Lc)

Al Qaidah dengan pemimpinnya Usamah bin Laden adalah sebuah nama yang tidak asing di dunia international. Ketenarannya sebagai dalang terorisme, peledakan, pembunuhan dan penculikan terutama di Negara-negara Islam tidak diragukan lagi oleh kebanyakan orang. Meski demikian. Masih ada segelintir orang jahil yang mendukung jaringan amat berbahaya bagi Islam dan kaum muslimin ini. Atau ada pulang yang jahil [1] atau pura-pura tidak tahu bahwa jaringan inilah yang merupakan otak di balik aksi terorisme dengan kedok jihad, terutama di negeri-negeri kaum muslimin.

Oleh karenanya, marilah kita simak bersama apa yang ditorehkan oleh pena seorang penuntut ilmu dari Yordania yang bernama Abu Abdillah Umar bin Abdul Hamid al-Bathusy hafidzahullah, yang dengan panjang lebar membedah akar jaringan teroris al-Qaidah dengan bukti-bukti yang nyata dan dalil-dalil yang akurat dalam karya ilmiahnya yang berjudul “Kasyfu al-Astaar ‘Amma Fii Tandziimi al-Qaidah Min Afkaari Wa Akhthaar” (Menyingkap tabir pemikirin dan bahaya jaringan al Qaidah). Namun, karena keterbatasan dalam majalah ini, maka kami pun berusaha untuk meringkas point-point penting di dalamnya dengan sedikit pengaturan redaksi yang insyaAllah tidak merubah makna dan maksud penulis.[2]

Dan mudah-mudah dengan taufiq-Nya dapat membuka mata hati manusia yang tertutup dan membungkam mulut-mulut berbisa yang terbiasa berdusta dan menuduh Dakwah Salafiyah atau dakwah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sebagai aksi terorisme modern.

___________________________________________________________

Footnote:

[1] Seperti Majalah Sabili

[2] Pemberian komentar dan footnote dari penerjemah

Sumber Radikalisme Dan Terorisme Dunia

Sesungguhnya akar dan sumber inti dari pengkafiran, peledakan, fitnah, malapetaka dan tragedi menggenaskan yang dialami oleh kaum muslimin dan selain mereka pada zaman ini adalah pemikiran dan buku-buku karangan Sayyid Quthub.[3]

Dan di antara orang-orang yang terdidik dan terpengaruh dengan buku-buku yang berbahaya tersebut serta menjadi korbannya adalah para pemimpin jaringan al-Qaidah. Khususnya orang pertama dalam jaringan ini, yaitu Usamah bin Laden, dan orang keduanya Aiman azh-Zhawahiri yang amat terpengaruh dengan buku-buku berbahaya tersebut dan membelanya mati-matian.

Oleh karenanya, mereka sangat mengkultuskan buku-buku, manhaj dan pemikiran Sayyid Quthub –semoga Allah mengampuninya-.[4] Buku-buku tersebut merupakan referensi utama dalam kebid’ahan dan fitnah mereka yang telah memenuhi dunia saat ini.

Aiman azh-Zhawahiri berkata: “Sesungguhnya Sayyid Quthub dialah yang pertama kali meletakkan undang-undang Jihadiyyin (Teroris) dalam kitabnya yang bak dinamit, yaitu Ma’aalim Fii ath-Thariq. Dan sesungguhnya dialah  sumber inspirasi radikalisme. Dan bukunya al-‘Adaalah al-Ijtima’iyah fii al-Islam terhitung produk akal pemikiran yang paling berharga bagi para kelompok radikal. Pemikiran Sayyid merupakan cikal bakal bagi terciptanya revolusi Islam melawan musuh-musuhnya di dalam maupun luar. [5]asy-Syarqu al-Ausath edisi 8407 tertanggal 19/9/1422H] Dan senantiasa pasal-pasalnya yang berdarah mengalami pembaharuan setiap saat.” [Harian

Dan tidak kalah pula peran Muhammad Quthub sebagai saudara kandung Sayyid Quthub dalam menularkan virus terorisme ke dalam diri usamah bin Laden. Ini semua karena Usamah pernah berguru dengan Muhammad Quthub dan sangat terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran takfir[6][7] dan Khawarijnya serta system harakahnya, yang tidak bisa diragukan lagi. Awal kali perjumpaan antara guru dan murid ini, ketika Usamah belajar di fakultas ekonomi dan manajemen Universitas Malik Abdul Aziz Jeddah Saudi Arabia.

Pada waktu bersamaan Muhammad Quthub menjadi dosen di universitas tersebut, dia pun bertemu dengannya. Kemudian setelah itu berjalanlah pertemuan demu pertemuan antara keduanya dan mulailah terjadi penyimpangan pemikiran dalam diri pemimpin al-Qaidah ini.

Muhammad Quthub mengajarkan aqidah yang menyimpang dari aqidah salafush shalih, khususnya dalam masalah takfir, tauhid hakimiyah (berhukum dengan hukum Allah), masalah al wala’ (loyalitas) dan al-barra’ (permusuhan) serta bersikap kepada penguasa muslim dan lain-lain.

Kesimpulannya, Muhammad Quthub merupakan ustadz pertama bagi pemimpin al Qaidah dan menancapkan pemikiran serta manhaj (sesat) kepadanya.

Di antara yang menunjukkan akan pengaruh kuat Muhammad Quthub dalam diri Usamah bin Laden adalah munculnya penamaan jaringan ini dengan nama “al Qaidah” yang bermarkas di Afhganistan. Hal ini dikarenakan Muhammad Quthub sering kali menyebutkan nama al-Qaidah dalam buku karangannya yang sangat berbahaya dan jelek Waaqi’una al-Mu’aashir.

Bahkan dalam satu pasal saja yang berjudul “Manhaj al Harakah” dai menyebutkan nama al-Qaidah lebih dari 40 kali. Maka sang murid yang setia ini pun terinpirasi dari sang guru dalam menamai jaringan terorisnya ini.

Continue reading

DAUROH ILMIYAH PELAJAR DAN MAHASISWA SE JABODETABEK


“DAUROH ILMIYAH”

PELAJAR DAN MAHASISWA

SE JABODETABEK

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Bersama ini kami umumkan kepada kaum muslimin
Khususnya para pelajar dan mahasiswa di kawasan “JABODETABEK”
Tentang akan diadakannya “DAUROH ILMIYAH”
Untuk pelajar dan mahasiswa se jabodetabek


DENGAN TEMA

Aktualisasi Pelajar Muslim Dengan Ilmu Yang Bermanfaat
Dan Akhlak Yang Mulia

YANG INSYA AKAN ALLAH DILAKSANAKAN PADA

Hari : Ahad, 06 Juni 2010/23 Jumadil Tsani 1431 H
Bertempat Di Masjid At-Tauhid
Arif Rahman Hakim Kampus UI Salemba Jakarta

DAUROH INI DIBAGI DALAM DUA SESI

SESI PERTAMA
Akan Dilaksanakan Pada Pukul 08:30 s/d 12:00
Dengan Tema
“Raihlah Kebahagiaan Dunia Dan Akhirat Dengan Ilmu”
Pemateri
“Ustadz Kurnaedi,Lc”

SESI KEDUA
Akan Dilaksanakan Pada Pukul 13:00 s/d 15:00
Dengan Tema
“Pemuda Yang Di Naungi Allah Pada Hari Kiamat”
Pemateri
“Ustadz Badrusalam,Lc”

Bagi Ikhwan Dan Akhwat Yang Berminat
Untuk Mengikuti Kegiatan ini
Silahkan Daftarkan Diri Anda Sekarang Juga

INFORMASI

Ikhwan
(021-92588697 / 081382001830 / 085695239600)

Akhwat
(021-96790489 / 085697400860)

SETIAP PESERTA DIKENAKAN BIAYA
SEBESAR Rp. 5000 (Untuk Makan Siang)

TABLIGH AKBAR PONTIANAK BERSAMA USTADZ AUNUR ROFIQ GHUFRON, Lc

Tabligh Akbar Pontianak
HADIRILAH

“TABLIGH AKBAR”


BERSAMA


“Ustadz Aunur Rofiq Ghufron, Lc”

SESI PERTAMA

Hari : Sabtu, 22 Mei 2010
Waktu : Pukul 19.30 s/d Selesai
Tempat : Masjid Raya Mujahidin Pontianak

MATERI

“Pembinaan Keluarga Muslim”

Peserta : Ikhwan Dan Akhwat
SESI KEDUA

Hari : Ahad, 23 Mei 2010
Waktu : Pukul 09.00 s/d Selesai
Tempat : Masjid Al-Muhtadin UNTAN Pontianak

MATERI

“Menyikapi Perbedaan Antar Ulama”


Peserta : Ikhwan Dan Akhwat

CONTACT PERSONS

Wahyu (081364549859)
Tyo (085252255887)

HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN DIKUBURAN

HUKUM MEMBACA AL-QURAN

DI ATAS KUBURAN

(Ustadz Badrusalam, Lc)

Sebelum kita membahas hukum membaca Al Qu’an di kuburan, baiknya kita bahas dahulu hukum menghadiahkan bacaan Al Qur’an kepada mayat: Para ulama berbeda pendapat, apakah menghadiahkan bacaan Al Qur’an kepada mayat sampai atau tidak?

PENDAPAT PERTAMA

Madzhab hanbali, hanafi, salah satu riwayat dari imam Asy Syafi’I, dan pendapat ulama terakhir dari madzhab Maliki dan sebagian Syafi’iyah berpendapat bahwa menghadiahkan bacaab Al Qur’an akan sampai kepada mayat, Al Bahuti berkata: “Imam Ahmad mengatakan bahwa sampai kepada mayat semua kebaikan, berdasarkan nash-nash yang menunjukkan kepada hal itu, juga karena manusia di negeri-negeri berkumpul membaca Al Qur’an untuk dihadiahkan kepada mayat tanpa pengingkaran, sehingga menjadi ijma’ mereka”. (Hasyiat ibnu Abidin 1/605).

Mereka berdalil dengan beberapa dalil :

Dalil Pertama

Hadits-hadits yang menyebutkan sampainya do’a, pahala shadaqah, haji dan puasa, maka diqiyaskan kepadanya bacaan Al Qur’an dan amal shalih lainnya.

Dalil Kedua

Hadits Ma’qil bin Yasaar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ.

“Bacakanlah Yasin kepada mayat-mayat kamu”. (HR Abu Daud dan lainnya).

Namun hadits ini lemah, karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Abu ‘Utsman bukan An Nahdi dan ayahnya, keduanya perawi yang majhul. Dan sanadnya juga mudltharib karena sebagian perawi meriwayatkan dari Abu Utsman dari ayahnya dan sebagian lain dari Abu ‘Utsman dari Ma’qil. (Irwaul ghalil 3/151 no 688). Adapun perkataan Al Maqdisi: “Hadits hasan gharib”. Adalah perkataan yang jauh dari kebenaran sebagaimana kita lihat.

PENDAPAT KEDUA

Sedangkan madzhab Maliki dan yang masyhur dari imam Asy Syafi’I menyatakan bahwa bacaan Al Qur’an untuk mayat tidak akan sampai.

Dasarnya adalah tidak adanya praktek dari Rasulullah dan para shahabatnya bahwa mereka menghadiahkan bacaan Al Qur’an untuk mayat, padahal para shahabat yang meninggal di zaman Nabi amat banyak. Kalaulah itu sampai dan bermanfaat untuk mayat, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengajarkannya kepada umatnya, terlebih beliau amat sayang kepada umatnya sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Kepada kaum mukminin beliau amat lembut dan penyayang”.

(At Taubah: 128).

Adapun qiyas kepada shadaqah, haji dan puasa adalah qiyas dalam masalah ibadah, sedangkan qiyas dalam masalah ibadah adalah qiyas yang batil. Dan inilah yang dirajihkan oleh Al Hafidz ibnu Katsir dari kalangan Syafi’iyah, beliau berkata dalam tafsir surat An Najm ayat 39:

“Dari ayat yang mulia ini, imam Asy Syafi’I dan pengikutnya beristinbath bahwa bacaan Al Qur’an tidak akan sampai kepada mayat. Karena itu bukanlah amal mayat bukan juga usahanya, dan Rasulullah tidak pernah menyunnahkan kepada umatnya, tidak juga menganjurkan, atau membimbing kepadanya, baik dengan nash maupun isyarat. Dan tidak pernah dinukil juga dari seorang sahabatpun. Kalaulah itu baik, tentu mereka akan mendahuluinya. Dan bab Al Qurubat (ibadah) hanya terbatas pada nash (dalil), tidak berlaku padanya qiyas dan ra’yu. Adapun do’a dan shadaqah, maka telah disepakati sampainya kepada mayat, dan ditunjukkan oleh nash syari’at”. (Tafsir ibnu Katsir 7/356-357 tahqiq Haani Al Haj).

Dan inilah pendapat yang rajih, karena kalaulah qiyas kepada shadaqah, haji dan puasa serta do’a itu diterima, tentu telah diamalkan oleh Rasulullah dan para shahabatnya, atau setidaknya Nabi mengajarkan dan menganjurkannya, namun semua itu tidak ada, kalaulah seorang penuntut ilmu mencari prakteknya dari Nabi sepanjang umur Nabi Nuh, ia tidak akan mendapatkannya, kecuali bila ia mau berani berdusta. Adapun yang dinisbatkan kepada shahabat yang menganjurkan membaca Al Qur’an di kuburan adalah tidak shahih sebagaimana akan kita jelaskan.

Dan klaim Al Bahuti bahwa ini adalah ijma’, karena manusia di negeri-negeri berkumpul membaca Al Qur’an untuk dihadiahkan kepada mayat tanpa pengingkaran, sehingga menjadi ijma’ mereka, adalah klaim yang tertolak, karena khilaf dalam masalah ini masyhur. Sedangkan kaidah yang harus difahami adalah: bahwa dalam masalah khilafiyah, kita tidak boleh berhujjah dengan pendapat ulama, hujah kita adalah Al Qur’an dan sunnah.

“HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN DIATAS KUBURAN”

Setelah kita memaparkan hukum menghadiahkan bacaan Al Qur’an, kita lanjutkan dengan pembahasan hukum membaca Al Qur’an di kuburan. Sayyid Sabiq berkata dalam fiqih sunnah: “Para fuqaha berselisih mengenai hukum membaca Al Qur’an di kuburan; Asy Syafi’I dan Muhammad bin Al Hasan berpendapat sunnah agar memberikan keberkahan padanya, dan disetujui oleh Al Qadli ‘Iyadl dan Al Qarafi dari Malikiyah, dan Ahmad memandang tidak apa-apa”. (Fiqih sunnah 1/559).

Al Khallaal meriwayat dari jalan Rouh bin Al Faraj dari Al Hasan bin Ash Shobbah ia berkata: “Aku bertanya kepada Asy Safi’i tentang membaca di sisi kuburan? Beliau menjawab: “Tidak apa-apa”. (Al Qiraah ‘indal qubur 1/7 no 6).

Namun Syaikhul islam ibnu Taimiyah meragukan keabsahan riwayat dari imam Asy Syafi’i, beliau berkata dalam kitab iqtidla (1/380 tahqiq Muhammad Hamid Al Faqi): “Tidak mahfudz dari Asy Syafi’I sendiri pembicaraan dalam masalah ini, karena yang demikian itu menurutnya adalah bid’ah, dan Malik berkata: “Aku tidak mengetahui seorangpun yang melakukannya”.

Dan pernyataan Sayyid Sabiq bahwa imam Ahmad memandang tidak apa-apa, bertentangan dengan yang diriwayatkan oleh Abu Dawud darinya dalam kitab masailnya (hal 158), beliau berkata: “Aku mendengar Ahmad ditanya tentang membaca (Al Qur’an) dikuburan? Beliau menjawab: “Tidak boleh”.

Namun ada riwayat yang menyebutkan bahwa Imam Ahmad rujuk darinya, yaitu yang diriwayatkan oleh Al Khallaal akhbarani Al Hasan bin Ahmad Al Warraq haddatsana Ali bin Musa Al Haddaad: “Aku bersama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al jauhari pada suatu janazah, ketika mayat telah dikuburkan, ada seorang lelaki buta duduk membaca Al Qur’an di sisi kubur, maka imam Ahmad berkata kepadanya: “Wahai, sesungguhnya membaca di kuburan adalah bid’ah”. Ketika kami telah keluar dari perkuburan, Muhammad bin Qudamah berkata kepada Ahmad bin Hanbal: “Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu mengenai Mubasyir Al halabi?” Ia menjawab: “Tsiqah”. Muhammad berkata: “Apakah engkau menulis sesuatu darinya?” Ia menjawab: “Ya”. Muhammad berkata: “Mubasyir mengabarkan dari Abdurrahman bin Al ‘Alaa bin Al ‘Alaa bin Al Lajlaaj dari ayahnya bahwa ia mewasiatkan apabila telah dikubur, agar dibacakan di kepalanya permulaan surat Al Baqarah dan akhirnya, dan berkata: “Aku mendengar ibnu Umar berwasiat demikian”. Maka Ahmad berkata kepadanya: “Kembalilah, dan katakan kepada orang buta itu: “Bacalah kembali”.

Akan tetapi hikayat ini tidak shahih, karena Al Hasan bin Ahmad Al Warraaq tidak diketahui siapa ia (majhul), demikian juga Ali bin Musa Al haddaad. Sehingga tidak dapat mengalahkan kekuatan riwayat Abu Dawud di atas. (Lihat Ahkaamul janaiz hal 243-245).



Continue reading