KIAT-KIAT ISTIMEWA MENUJU KELUARGA SAKINAH

dsc00719

kiat

keluarga-sakinah

(Ditulis Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas)

Di Publikasi Ulang Oleh : Abu Abdulrahman Al-bantani

“Dari Buku Kiat-Kiat Istimewa Menuju Keluarga Sakinah”


Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan pernikahan, mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (meminang), cara mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah (memberi nafqah), dan pembagian harta waris, semuanya telah diatur dalam Islam secara terperinci, dan detail. selanjutnya untuk memahami konsep pernikahan dalam islam, maka rujukan yang paling benar dan sah adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih. maka berdasarkan rujukan ini kita akan memperoleh kejelasan tentang aspek-aspek pernikahan, maupun beberapa penyimpangan dan pergeseran nilai pernikahan yang terjadi di dalam masyarakat kita.

Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkannya. karena nikah merupakan  “Gharizah Insaniyah” (naluri kemanusiaan).

Allah Ta’ala berfirman :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kapada Agama (Allah). (tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) Agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar-Ruum : 30)

“ISLAM MENGANJURKAN NIKAH”

Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan sangat besar sekali, Allah menyebutkan sebagai ikatan yang kuat.

Allah Ta’ala Berfirman :

” ….. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”. (QS. An-Nisa : 21)

Sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Bersabda :

“Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh agamanya. dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dengan memelihara yang separuhnya lagi”. (HR. At-Thabrani di kitab Mu’Jamul Ausath)

“ISLAM TIDAK MENYUKAI MEMBUJANG”

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras orang yang tidak mau menikah.

Anas bin Malik berkata Rahimahullah, berkata :

“Rasulullah memerintahkan kami untuk menikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras”.

Beliau Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Bersabda :

“Nikahilah wanita yang subur dan penyayang. karena aku akan berbangga dengan banyaknya ummatku di hadapan ummat-ummat lain”. (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

Pernah suatu ketika. tiga orang sahabat datang dan bertanya kepada isteri-isteri Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang peribadatan yang beliau lakukan. kemudian setelah diterangkan, maka masing-masing ingin meningkatkan ibadah mereka. salah seorang diantara mereka berkata : “Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus”, sahabat yang lainnya berkata : “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya” … dan ketika hal tersebut didengar oleh Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau pun bersabda :

“Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu … Sungguh demi Allah. Sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa kepada Allah diantara kalian. akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. maka barangsiapa yang tidak menyukai Sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Baihaqi)

Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk menikah. dan seandainya mereka fakir niscaya Allah Ta’ala akan membantudengan memberikan rizqi kepada mereka. dan Allah menjanjikan pertolongan kepada orang-orang yang menikah.

Allah Ta’ala Berfirman :

“Dan Nikahkan lah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (Menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan yang wanita. jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan Allah maha luas (Pemberiannya) lagi maha mengetahui”. (QS. An-Nuur : 32)

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bersabda :

“Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapatkan pertolongan Allah. yaitu Mujahid Fi Sabilillah, Budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ibnu Majjah dan Al-Hakim)

tujuan-pernikahan1

  • Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia yang Asasi

Pernikahan adalah fithrah manusia, dan jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan akad nikah (melalui jenjang pernikahan). bukan dengan cara yang kotor dan menjijikan, seperti cara-cara orang-orang sekarang ini dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.

  • Untuk Membentengi Akhlaq Yang Mulia

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Bersabda :

“Wahai para pemuda, Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah. karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). dan baran tidak mampu, maka hendaklah ia saum (puasa), karena saum itu dapat membentengi dirinya”. (HR. Bukhari, Muslim Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ad-Darimi)

  • Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa, Islam membenarkan adanya thalaq (perceraian), jika suami-isteri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala Berfirman :

“Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali,  itu boleh rujuk lagi dengan cara ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya, itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim”. (QS. Al-Baqarah :229)

Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami-isteri melaksanakan syari’at Islam dalam rumah tangganya, Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari’at Islam adalah wajib. Oleh karena itu, setiap muslim dan muslimah harus berusaha membina rumah tangga yang Islami. Ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal, agar terbentuk rumah tangga yang Islami. dan diantara kriteria itu adalah harus “Kafa’ah dan Shalihah”.

Kafa’ah Menurut Konsep Islam

Kafa’ah (setaraf, sederajat) menurut islam hanya diukur dengan kualitas Iman dan Taqwa serta Akhlaq seseorang, bukan diukur bukan diukur dengan status sosial, keturunan dan barometer duniawi lainnya.

Allah Ta’ala Berfirman :

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suke supaya kamu saling kenal mengenal. sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”. (QS. Al-Hujurat : 13)

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Bersabda :

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan Agamanya. maka hendaklah kamu pilih wanita yang taat Agamanya (Ke-Islamannya), niscaya kamu akan beruntung”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majjah, dan Ahmad dari Sahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu)

Memilih Yang Shalihah

Orang yang hendak menikah, harus memilih wanita yang shalihah, demikian pula wanita yang akan menikah harus memilih laki-laki yang shalih.

Allah Ta’ala Berfirman :

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula) … “ (QS. An-Nuur : 26)

Dan Allah Ta’ala Juga Berfirman :

“Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara (mereka)”. (QS. An-Nisaa : 34)

Menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shahih, diantara ciri-ciri wanita yang shalihah ialah :

  1. Ta’at kepada Allah Ta’ala dan ta’at kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
  2. Ta’at kepada suami dan menjaga kehormatannya disaat suami ada atau tidak ada, serta menjaga harta suaminya.
  3. Menjaga shalat yang lima waktu tepat pada waktunya.
  4. Melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan.
  5. Banyak shadaqah dengan seizin suaminya.
  6. Memakai jilbab yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah.
  7. Tidak berbincang-bincang dan berdua-duaan dengan lelaki yang bukan mahramnya, karena yang ketiganya adalah syetan.
  8. Tidak menerima tamu yang tidak disukai suaminya.
  9. Ta’at kepada kedua orang tua dalam kebaikan.
  10. Berbuat baik kepada tetangganya sesuai dengan syari’at.
  11. Mendidik anak-anaknya dengan pendidikan Islami.

Bila semua kriteria ini dapat dipenuhi, insya Allah rumah tangga rumah tangga yang Islami akan terwujud.

  • Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Bersabda :

” … Dan dalam hubungan suami-isteri salah seorang diantara kalian adalah sedekah …! (mendengar sabda Rasulullah), para sahabat keheranan dan bertanga,: “Wahai Rasulullah … Apakah salah seorang dari kita memuaskan syahwatnya (kebutuhan biologisnya terhadap isterinya ) akan mendapatkan pahala …? Nabi Salallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab … bagaimana menurut kalian, jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain isterinya, bukankah mereka berdosa … jawab para sahabat … ya, benar. Beliau pun bersabda lagi : “Begitupun kalau mereka bersetubuh dengan isterinya (ditempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala”. (HR. Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban)

  • Untuk Memperoleh Keturunan Yang Shalih

Tujuan pernikahan diantaranya adalah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam.

Allah Ta’ala Berfirman :

“Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami isteri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah …?”. (QS. An-Nahl : 72)

Yang terpenting lagi dalam pernikahan bukan hanya sekedar memperoleh anak, akan tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berqualitas , yaitu mencari anak yang shalih dan bertakwa kepada-Nya.

Allah Ta’ala Berfirman :

“…… Dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian (yaitu anak)”. (QS. Al-Baqarah : 187)

Yang dimaksud dalam ayat ini , “Hendaklah kalian mencampuri isteri kalian dan berusaha untuk memperoleh anak”.

tata-cara-pernikahan

  • KHITBAH  (PEMINANGAN)

Seorang muslim yang akan menikahi seorang muslimah. hendaklah ia meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain, Dalam hal ini Islam melerang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain.

  • AQAD NIKAH

Dalam Aqad Nikah ada beberapa syarat, rukun dan kewajiban yang harus dipenuhi, diantaranya :

  1. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.
  2. Adanya Ijab Qabul.
  3. Adanya Mahar.
  4. Adanya Wali.
  5. Adanya Saksi-Saksi.
  • WALIMAH

Walimatul ‘Urusy (Pesta Pernikahan) hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin dan dalam walimah hendaknya diundang pula orang-orang miskin.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda :

“Selenggarakanlah walimah meskipun hanya menyembelih seokor kambing”.(HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ad-Darimi, dan Ahmad dari sahabat Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu)

pelanggaran

Ada beberapa pelanggaran yang wajib di hindari, bagi seseorang yang menginginkan pernikahan yang barokah, diantaranya :

  1. Pacaran.
  2. Tukar Cincin.
  3. Menuntut Mahar (maskawin) Yang Tinggi.
  4. Mengikuti Upacara Adat.
  5. Mencukur Jenggot bagi laki-laki, dan mencukur alis mata bagi wanita.
  6. Mempercayai Hari Baik Dan Hari Sial Dalam Menentukan Waktu Pelaksanaan pernikahan.
  7. Mengucapkan Selamat Ala Kaum Jahiliyah.
  8. Adanya Ikhtilath (Bercampur bBaurnya Laki-Laki Dan Perempuan).
  9. Adanya Musik dan Nyanyian, Serta Pelanggaran-Pelanggaran Lainnya.

Marilah kita berupaya untuk melaksanakan pernikahan dan membina rumah tangga dengan cara yang Islami, serta berusaha dengan sekuat tenaga untuk meninggalkan aturan, tata-cara, upacara adat istiadat yang bertentangan dengan syari’at Islam. dan jangan meniru-niru cara-cara orang kafir dan cara-cara orang-orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat.

hak-kewajiban

Anjuran Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk menikah mengandung berbagai manfaat. sebagaimana yang dijelaskan oleh para Ulama, dan diantara manfaat yang dapat kita petik adalah :

  1. Dapat menundukan pandangan.
  2. Akan menjaga kehormatan.
  3. Terpeliharanya kemaluan (farji) dari berbagai kemaksiatan.
  4. Akan di tolong dan di mudahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
  5. Dapat menjaga syahwat yang merupakan salah satu sebab dijaminnya ia untuk masuk kedalam Surga.
  6. Mendatangkan ketenangan dalam hidup.
  7. Akan terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, Sebagaiman Firman Allah Ta’ala :                                                                   “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri. supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan dijadikannya diantara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar-Ruum :21)
  8. Akan mendapatkan keturunan yang shalih.
  9. Menikah dapat menjadi sebab peningkatan jumlah ummat Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Ada sebagian kaum muslimin yang telah menikah dan dikaruniai oleh Allah seorang anak atau dua orang anak, kemudian mereka membatasi kelahiran. tidak mau mempunyai anak lagi dengan berbagai alasan yang tidak syar’i. Perbuatan mereka telah melanggar syari’at islam. dan fatwa-fatwa ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah menjelaskan dengan tegas, bahwa membatasi kelahiran atau dengan istilah lainnya “Keluarga Berencana” (KB), hukumnya adalah haram. karena sesungguhnya banyak anak itu banyak manfaatnya, diantara manfaatnya adalah :

  1. Di dunia mereka akan saling menolong dalam kebajikan.
  2. Mereka akan membantu meringankan beban orang tuanya.
  3. Do’a mereka akan menjadi amal yang bermanfaat ketika orang tuanya sudah tidak bisa lagi beramal (meninggal dunia).
  4. Jika ditakdirkan oleh Allah Ta’ala anaknya meninggal ketika masih kecil, Insya Allah ia akan menjadi syafa’at (penolong) bagi orang tuanya nanti diakhirat.
  5. Anak akan menjadi hijab (pemelihara) dirinya dengan api neraka, manakala orang tuanya mampu menjadikan anak-anaknya sebagai anak-anak yang shalih dan shalihah.
  6. Dengan banyaknya anak, akan menjadikan salah satu sebab bagi kemenangan kaum muslimin ketika dikumandangkan “Jihad Fii Sabilillah”, karena jumlah ummat islam yang sangat banyak.
  7. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bangga dengan jumlah ummatnya yang banyak. dan apabila seorang muslim cinta kepada Nabinya maka hendklah ia mengikuti Rasulullah untuk memperbanyak anak, karena beliau bangga dengan tingginya kuwantitas ummatnya pada hari kiamat nanti.

BILA BELUM DIKARUNIAI ANAK

Apabila ditakdirkan Allah Ta’ala, pasangan suami-isteri yang sudah menikah sekian lama, namun belum juga dikaruniai anak maka janganlah ia berputus asa dari Rahmat Allah Ta’ala hendaklah ia terus berdo’a sebagaimana Nabi Ibrahim Alaihis Sallam dan Nabi Zakaria Alaihis Sallamyang selalu berdo’a kepada Allah sampai akhirnya Allah mengabulkan do’a mereka, hendaknya bersabar dan ridho terhadap qadha dan qadar yang Allah tentukan. serta meyakini bahwa semua itu ada hikmahnya. diantara do’a memohon agar dikaruniai anak yang shalih dan shalihah adalah :

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak)  yang termasuk orang yang shalih”. (QS. As-Shaafat : 100)

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Furqaan : 74)

“Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik”. (QS. Al-Anbiyaa : 89)

Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan keturunan yang shalih dan shalihah kepada pasangan suami-isteri yang belum dikaruniai anak.

hak-isteri

Diantara kewajiban dan hak tersebut adalah seperti yang tercantum dalam sabda Nabi Salallahu ‘alaihi Wa Sallam dari sahabat Mu’awiyah bin Ka’ab Al-Qusyairy Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata : … saya telah bertanya, “Ya Rasulullah apa hak seorang isteri yang harus dipenuhi oleh suaminya …?” Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab : …

  1. Engkau memberinya makan apabila engkau makan.
  2. Engkau memberinya pakaian apabila engkau berpakaian.
  3. Janganlah engkau memukul wajahnya, dan.
  4. Janganlah engkau menjelek-jelekkannya, dan.
  5. Janganlah engkau tinggalkan dia melainkan di dalam rumah (jangan berpisah tempat tidur melainkan didalam rumah).

MENGAJARKAN ILMU AGAMA

Disamping hak diatas harus dipenuhi oleh seorang suami, seorang suami juga wajib mengajarkan ajaran Islam kepada isterinya.

Allah Ta’ala Berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya (terbuat dari) manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS.AT-Tahrim : 6)

Untuk itulah, kewajiban sang suami untuk membekali dirinya dengan menuntut ilmu syar’i (Thalabul Ilmi) dengan menghadiri majlis-majlis ilmu yang mengajarkan Al-Qur’an dan AS-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih (Generasi terbaik) yang mendapatkan jaminan dari Allah, sehingga dengan bekal tersebut seorang suami dapat mengajari istri dan anaknya, jika dia tidak sanggup mengajarkannya kepada keluarganya maka seorang suami harus mengajak isterinya untuk menuntut ilmu syar’i dan menghadiri majlis-majlis taklim yang mengajarkan tentang Aqidah, Tauhid, Mengikhlaskan Agama hanya kepada Allah, dan mengajarkan tentang bersuci, berwudhu, shalat, serta adab dan akhlaq lainnya.

hak-suami

KETAATAN ISTERI KEPADA SUAMINYA

Setelah Wali (orang tua) sang isteri menyerahkan isteri kepada suaminya, maka kewajiban taat kepada sang suami menjadi hak yang tertinggi yang harus dipenuhi seorang isteri kepada suaminya, setelah kewajibannya kepada Allah dan Rasul-Nya Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Kalau seandainya aku boleh menyuruh seorang untuk sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi)

Sang isteri harus taat kepada suaminya, dalam hal-hal yang ma’ruf (mengandung kebaikan dalam hal agama), misalnya ketika diperintahkan untuk mendirikan shalat, berpuasa, mengenakan busana muslimah, menghadiri majlis ilmu, dan bentuk-bentuk perintah lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan syari’at. hal inilah yang justeru akan mendatang kan surga bagi dirinya.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa dibulan Ramadhan, menjaga kemaluannya,menjaga kehormatannya dan dia taat kepada suaminya. niscaya dia akan masuk surga dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki”. (HR. Ibnu Hibban)

ISTERI HARUS BANYAK BERSYUKUR DAN TIDAK BANYAK MENUNTUT

Perintah ini sangat ditekankan dalam islam, bahkan Allah ta’ala tidak akan melihatnya pada hari kiamat, manakala sang isteri banyak menuntut kepada suaminya dan tidak bersyukur kepadanya.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya aku diperlihatkan neraka dan melihat kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, Sahabat bertanya : … Sebab apa yang menjadikan mereka paling banyak menghuni neraka … , Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab : … Denga sebab kekufuran, Sahabat bertanya : … Apakah dengan sebab mereka kufur kepada Allah … , Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab : … (Tidak) mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan. seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat sesuatu yang jelek pada diri suaminya, maka ia pun mengatakan … ‘aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu’ … .(HR> Bukhari, Muslim, Malik, ‘Abu ‘Awanah, An-Nasa’i, dan Al-Baihaqi)

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan dia selalu menuntut [tidak pernah merasa cukup]. (HR. An-Nasa’i, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

ISTERI WAJIB BERBUAT BAIK KEPADA SUAMINYA

Perbuatan ikhsan (baik) seorang suami harus dibalas pula dengan perbuatan yang serupa atau yang lebih baik lagi. isteri harus berkhidmat kepada suaminya dan menunaikan amanah untuk mendidik anak-anaknya, menurut syari’at islam yang mulia. karena Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada seorang isteri untuk mengurus suaminya, mengurus rumah tangganya, dan mengurus anak-anaknya.

nasihat

Diantara nasihatku untuk suami isteri adalah :

  1. Bertakwalah kepada Allah Ta’ala dalam keadaan bersama maupun sendiri, dirumah maupun diluar rumah.
  2. Wajib menegakkan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menjaga batas-batas Allah Ta’ala didalam keluarga.
  3. Melaksanakan kewajiban kepada Allah Ta’ala dan meminta tolong kepada Allah Ta’ala. laki-laki wajib mengerjakan shalat yang lima waktu dimasjid secara berjamaah, dan perintahkan anak-anak untuk shalat tepat pada waktunya.
  4. Menegakkan shalat-shalat sunnah, terutama qiamul’lail (shalat malam/tahajud).
  5. Perbanyaklah berdzikir kepada Allah ta’ala, Bacalah Al-Qur’an setiap hari terutama surat Al-Baqarah, Bacalah pula dzikir-dzikir yang telah diajarkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa’ Sallam, Ingatlah bahwasanya setan tidak senang terhadap keutuhan rumah tangga dan setan selalu berusaha mencerai-beraikan pasangan sisteri, Dan ajarkan anak-anak untuk membaca Al-Qur’an dan Dzikir.
  6. Bersabarlah atas musibah yang menimpa dan bersyukurlah kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat-Nya.
  7. Terus-menerus berintrospeksi antara suami dan isteri. saling menasehati dan tolong-menolong serta maaf-memaafkan dan saling do’a-mendo’akan, dan janganlah saling egois dan benci.
  8. Berbakti kepada kedua orang tua.
  9. Mendidik anak-anak agar menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, ajarkan tentang Aqidah, Ibadah dan Akhlaq yang benar dan mulis.
  10. Jagalah anak-anak dari media yang merusak Aqidah dan Akhlaq.

untuk-suami

UNTUKMU WAHAI PARA SUAMI ….. !!!

  • Apa yang memberatkanmu – wahai hamba Allah – untuk tersenyum dihadapan isterimu ketika engkau masuk menemuinya, agar engkau memperoleh ganjaran dari Allah Ta’ala.
  • Apa yang membebanimu untuk bermuka cerah ketika engkau melihat isteri dan anak-anakmu … dan engkaupun akan dapat pahala.
  • Apa sulitnya apabila engkau masuk kerumah sambil mengucapkan salam secara sempurna, “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” agar engkau memperoleh tiga puluh kebaikan.
  • Apa yang kira-kira akan menimpamu jika engkau berkata kepada isterimu dengan perkataan yang baik, sehingga dia meridhaimu, sekalipun dalam perkatanmu itu agak sedikit dipaksakan.
  • Apakah menyusahkanmu – wahai hamba Allah – jika engkau berdo’a : “Ya Allah perbaikilah isteriku dan curahkan keberkahan kepadanya”.
  • Tahukah engkau bahwa ucapan yang lembut merupakan shadaqah …

untuk-isteri

UNTUKMU WAHAI PARA ISTERI …..!!!

  • Apakah menyulitkanmu jika engkau menemui suamimu ketika dia masuk kerumahmu dengan wajah yang cerah sambil tersenyum manis.
  • Berhiaslah untuk suamimu dan raihlah pahala disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. gunakanlah wangi-wangian, bercelaklah, berpakaianlah dengan busana terindah yang kau miliki untuk menyambut kedatangan suamimu,  Ingatlah jangan sekali-kali engkau bermuka muram dan cemberut dihadapannya.
  • Jadilah engkau seorang isteri yang memiliki sikap lapang dada, tenang dan selalu ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala didalam segala keadaan.
  • Didiklah anak-anakmu dengan baik, penuhilah rumahmu dengan Tasbih, Takbir, Tahmid, dan Tahlil. serta perbanyaklah membaca Al-Qur’an, khususnya surat Al-Baqarah karena surat tersebut dapat mengusir syaitan.
  • Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan shalat malam, anjurkanlah ia untuk melaksanakan puasa sunnah dan ingatkanlah ia kembali tentang keutamaan berinfaq. serta janganlah melarangnya untuk menjaga tali silaturahim.
  • Perbanyaklah Istighfar untuk dirimu, suamimu, orang tuamu, dan semua kaum muslimin, dan berdo’a lah selalu agar diberikan keturunan yang shalih dan memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. dan ketahuilah sesungguhnya Rabbmu maha mendengar Do’a

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :

“Dan Rabb kalian berfirman : … Berdo’a lah kepada-Ku, niscaya aku akan mengabulkan untuk kalian.” (QS. Al-Mu’min :60).

kepemimpinan-laki-laki

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka. sebab itu maka wanita yang shaleh ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka ditempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah maha Tinggi dan maha Besar”. (QS. An-Nisa’ :34).

kewajiban-mendidik-anak

Sang suami sebagai kepala rumah tangga haruslah memberikan teladan yang baik dalam mengemban tanggung jawabnya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mempertanyakannya dihari akhir kelak.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam Bersabda :

“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggungjawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (Raja) adalah pemimpin, laki-lakipun pemimpin atas keluarganya, dan perempuan juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Ingatlah bahwa kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu semua akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dari sahabat Ibnu Umar).

Maka seorang suami haruslah berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk menjadi seorang suami yang shalih, dengan mengkaji ilmu-ilmu Agama, memahaminya serta melaksanakan dan mengamalkannya apa-apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Salallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta menjauhkan diri dari setiap yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasil-Nya Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian dia mengajak dan membimbing sang isteri untuk berbuat yang demikian juga, sehingga anak-anaknya akan meneladani kedua orang tuanya karena tabiat anak memang cenderung untuk meniru apa yang ada disekitarnya.

  1. Mendidik anak dengan cara yang baik dan sabar agar mereka mengenal dan mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah menciptakannya dan yang telah menciptakan seluruh alam semesta. mengenal dan mencintai Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang pada diri beliau terdapat suri tauladan yang baik dan mulia, serta agar mereka mengenal dan memehami Islam untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Pada usia dini (sekitar 2-3 tahun), kita ajarkan kepada mereka “Kalimat-kalimat yang baik serta bacaan Al-Qur’an”, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para Sahabat dan generasi Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, sehingga banyak dari mereka yang sudah hafal Al-Qur’an pada usia yang sangat belia.
  3. Perhatikanlah Sholatnya, dan jagikan prioritas utama bagi orang tua terhadap anak-anaknya.
  4. Perhatikanlah juga Akhlaknya, dan tekankan kepada anak-anak agar berbakti kepada kedua orang tuanya.
  5. Perhatikanlah juga teman pergaulannya, larena bisa jadi pengaruh jelek temannya akan berimbas pada prilaku dan akhlak anak-anak kita.
  6. Disamping ikhtiar yang dilakukan untuk menjadikan isteri kita menjadi isteri yang shalihah, dan hendaklah seorang suami juga memanjatkan Do’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada waktu-waktu yang mustajab (waktu terkabulnya Do’a), seperti : Sepertiga malam yang akhir, agar keluarganya dijadikan keluarga yang shalih dan rumah tangganya diberikan sakinah, mawaddah wa rahmah seperti Do’a yang tercantum dalam Al-Qur’an :

“Dan orang-orang yang berdo’a ….. Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami, keturunan-keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”.                          (QS. Al-Furqaan : 74)

dari penjelasan diatas paling tidak seorang suami hendaknya bisa menjadi teladan dalam keluarganya, dihormati oleh isteri dan anak-anaknya, kemudian mereka menjadi hamba-hamba Allah Sibhanahu wa Ta’ala yang shalih dan shalihah, bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikianlah kiat-kiat yang hendaknya seorang muslim dan muslimah lakukan untuk terwujudnya keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Wallahu A’lam Bish Shawab …..

maraji

  1. ‘Isyratun Nisaa’ (Imam Abu Abdirrahman Ahman bin Syu’aib bin ‘Ali An-Nasa’i), tahqiq dan ta’liq ‘Amir ‘Ali ‘Umar, cetakan Maktabah As-Sunnah Kairo, thn 1408 H.
  2. Addabuz  Ziffaf Fis Sunnah Al-Muthahharah, ta’lif Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-albany.
  3. Irwaa-ul Ghaliil Fii Takhrijii Ahaadits Manaaris Sabil, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany.
  4. Al-Insyirah Fii Adaabin Nikah, ta’lif Abu Ishaq Al-Huwaini Al-Atsary, cetakan II Darul Kitab Al-‘Araby. thn 1408 H.
  5. Fiqhut Ta’amul Baina Az-Zaujani Wa Qabasat Min Baitin Nubuwwah, ta’lif Syaikh Abu ‘Abdillah Musthafa bin Al-Adawy, cetakan I Darul Qasim 1417 H.
  6. Tuhfatul ‘Arus, Syaikh Muhammad Mahdi Al-Istanbuly.
  7. Adaabul Khitbah Wa Zifaaf Fis Sunnah Al-mutahharah, ta’lif ‘Amr ‘Abduh Mun’im Salim, cetakan I Daarudh Dhiyaa’, thn 1421 H.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: