AQIDAH THAHAWIYAH

cooltext405260209

cooltext403912293

( IMAM ABU JA’FAR AT-THAHAWI )

Kitab ini berisi penjelasan tentang Aqidah Ahlusunnah Wal Jama’ah yang dipegang teguh oleh beberapa Ulama, yaitu : Abu Hanifah (An Nu’man bin Tsabit Al-Kufi), Abu Yusuf (Ya’qub bin Ibrahim Al-Anshari), dan Abu Abdullah (Muhammad bin Hasan Asy Syaibani. mudah-mudahan Allah meridhai mereka semua. Kitab ini juga yang menjelaskan dasar-dasar agama yang menjadi pegangan mereka dalam melakukan ketaatan kepada Allah Rabbul’alamin.

Diantara Aqidah Imam Abu Ja’far At-Thahawi, adalah :

  1. Kami berkata, “Dalam masalah ketauhidan kami menetapkan bahwa Allah adalah maha Esa dan tidak ada sekutu baginya.
  2. Tidak ada seorangpun yang sama dengan-Nya.
  3. Tidak ada sesuatupun yang dapat mengalahkan-Nya.
  4. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.
  5. Maha terdahulu tanpa permulaan dan Maha kekal tanpa akhir.
  6. Allah Tidak akan hancur dan tidak akan binasa.
  7. Tidak ada sesuatupun yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya.
  8. Allah tidak terjangkau oleh prakiraan dan akal pikiran.
  9. Dan tidak ada satupun manusia yang menyerupai-Nya.
  10. Allah Maha hidup dan tidak akan pernah mati, dan Allah terus menerus mengurus mahluk-Nya dan tidak pernah tidur.
  11. Allah pencipta segala sesuatu dan tidak butuh bantuan siapapun,dan Allah pemberi rizqi tanpa keberatan.
  12. Allah yang mematikan makhluk tanpa perasaan takut, dan Dia akan membangkitkan mereka tanpa mengalami kesukaran sedikitpun.
  13. Allah senantiasa mempunyai sifat-sifat tersebut sebelum menciptakan makhluk-Nya dan sifat-sifat tersebut tidak bertambah sedikitpun setelah adanya makhluk, karena sifat-sifat tersebut sejak dahulu ada (AZALI) pada Allah dan akan tetap abadi selamanya.
  14. Allah dinamakan Al-Khaliq bukan hanya setelah menciptakan makhluk-Nya dan dinamakan Al-Bari bukan hanya setelah makhluk-Nya itu ada.
  15. Allah mempunyai sifat-sifat Rububiyah (PENGATUR) dan bukan yang diatur, Dia Maha pencipta dan Dia tidak diciptakan oleh siapapun.
  16. Dia juga menghidupkan orang-orang yang telah mati, dan Dia berhak menyandang nama Al-Muhyi bukan hanya setelah makhluk-makhluk-Nya dihidupkan, begitu juga dengan nama Al-Khaliq bukan hanya setelah makhluk-makhluk-Nya tercipta.
  17. Begitulah Dia Maha kuasa atas segala sesuatu, dan segala sesuatu berhajat kepada-Nya. karena setiap perkara mudah dimata Allah, Allah tidak berhajat kepada siapapun. Allah Ta’ala Berfirman : “Tidak ada yang sama dengan-Nya, Dia Maha mendengar dan Maha melihat”.
  18. Allah menciptakan makhluk dengan Ilmu-Nya.
  19. Allah Menentukan takdir seluruh makhluk-Nya.
  20. Allah menentukan ajal (KEMATIAN) bagi para makhluk-Nya.
  21. Tidak ada satu makhluk pun yang samar bagi Allah meskipun sebelum makhluk tersebut diciptakan. Allah telah mengetahui apa saja yang akan dilakukan makhluk-makhluk-Nya sebelum makhluk tersebut Dia ciptakan.
  22. Allah menyuruh segenap makhluk-Nya itu untuk mentaati-Nya dan melarang mereka durhaka kepada-Nya.
  23. Segala sesuatu berjalan menurut takdir dan kehendak Allah, dan setiap yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan kehendak makhluk tergantung pada kehendak-Nya. apa yang dikehendaki Allah pasti terjadidan yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi.
  24. Allah memberi petunjuk, memberi perlindungan, dan memberi ampunan kepada siapa yang Dia kehendaki dengan kemurahan-Nya, dan Allah menyesatkan, menelantarkan dan memberikan cobaan kepada siapa yang Dia kehendaki dengan keadilan-Nya.
  25. Semua makhluk ada dalam kehendak Allah, antara karunia-Nya dan keadilan-Nya.
  26. Allah Maha tinggi atas segala saingan dan tandingan.
  27. Tidak ada yang mampu menolak ketentuan Allah, menahan keputusan-Nya, dan mengalahkan urusan-Nya.
  28. Kita ber-Iman dengan hal-hal tersebut, dan yakin bahwa segala sesuatu berasal dari Allah.
  29. Kita ber-Iman bahwa Muhammad Salallahu’alaihi Wa Sallam adalah hamba Allah, dan Nabi pilihan-Nya, serta Rasul yang diridhai-Nya.
  30. Kita ber-Iman bahwa Muhammad Salallahu’alaihi Wa Sallam adalah penutup para Nabi, pemimpin orang-orang yang ber-Taqwa, dan penghulu para Rasul.
  31. Klaim adanya Nabi setelah Beliau adalah sesat dan bualan hawa nafsu semata.
  32. Beliau diutus kepada segenap jin dan manusia dengan membawa kebenaran, petunjuk, cahaya, dan jalan yang terang.
  33. Al-Qur’an adalah kalam (perkataan) Allah, Al-Qur’an adalah perkataan yang muncul dan berasal dari Allah tanpa diketahui kaifiyah (bagaimana) nya. Allah menurunkan Al-Qur’an keada Rasul-Nya dalam bentuk wahyu, Orang-orang mukmin meyakininya sebagai satu kebenaran. mereka juga meyakini bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar merupakan perkataan Allah dan bukan makhluq seperti halnya ucapan manusia. Barangsiapa mempunyai anggapan bahwa Al-Qur’an adalah ucapan manusia maka dia telah berbuat kekafiran. Allah mencela orang-orang yang beranggapan seperti itu dan mengancamnya dengan neraka saqar seagaimana disebutkan dalam firman-Nya : “Aku akan masukkan orang-orang tersebut kedalam neraka saqar” (QS:Al-Mudatsir : 26) karena Allah akan mengancam dan memasukkan kedalam neraka saqar orang-orang yang mempunyai anggapan sebagaimana yang disebutkan didalam firman-Nya : “Al-Qur’an tidak lain hanyalah perkataan manusia” (QS. Al-Mudatsir : 25), maka kita mengetahui dan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah perkataan Allah Pencipta Manusia dan bukan ucapan manusia.
  34. Barangsiapa menggambarkan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat yang ada pada manusia, maka dia telah kufur. orang-orang yang memahami permasalahan ini akan dapat mengambil pelajaran dan akan menghindarkan diri dari perkataan orang-orang kafir yang sesat, dan akan mengetahui bahwa sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat-sifat manusia.
  35. Bahwa penduduk surga akan melihat Allah adalah benar. akan tetapi, mereka melihat Allah tidak secara keseluruhan dan tidak bisa digambarkan bagaimana mereka melihat. Allah berfirman : “Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. mereka melihat Tuhan mereka” (QS. Al-Qiyamah : 22-23), menafsirkan makna melihat wajah Allah harus sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. dan informasi dalam hadits-hadits Nabi yang menyebutkan tentang masalah ini harus kita fahami secara tekstual (sebagaimana yang dikehendaki Allah), dan tidak boleh ditakwil dengan pendapat-pendapat kita atau menduga-duga dengan hawa nafsu kita. dan tidaklah selamat Agama seseorang kecuali jika dia berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengembalikan ilmu yang kurang jelas baginya kepada orang yang mengetahuinya
  36. Ke-Islaman seseorang hanya akan kokoh bila didasari dengan ketundukan dan kepasrahan diri kepada Allah. Barangsiapa yang memaksakan diri mencari pengetahuan tentang sesuatu yang terlarang untuk diketahui dan tidak mencukupkan pemahaman tentang hal tersebut dengan informasi dari Allah dan Rasul-Nya, maka dirinya tidak akan mendapatkan tauhid yang murni, kejernihan pemahaman, kebenaran Iman, maka dia berada dalam keraguan antara iman dan kafir, antara membenarkan dan mendustakan antara mengakui dan mengingkari, serta akan selalu dalam keadaan was-was dan ragu-ragu dan orang seperti itu tidak tergolong orang mukmin yang benar, namun juga tidak termasuk sebagai pengingkar yang tulen.
  37. Ke-Imanan seseorang bahwa ahli surga akan melihat Allah tidak sah bila dengan penggambaran tertentu, atau mentakwilkan dengan pemahaman yang keliru.
  38. Allah Maha Suci dari batasan-batasan, dimensi-dimensi, Unsur-unsur anggota badan, dan alat-alat pembantu. Allah juga tidak dibatasi oleh arah yang enam jumlahnya sebagaimana yang berlaku pada mahluk-Nya.
  39. Peristiwa Mi’raj adalah benar. Nabi diperjalankan oleh Allah (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha) dan dinaikkan kelangit (jiwa dan raga beliau) dalam keadaan terjaga. kemudian Allah juga membawa beliau ketempat lain yang dikehendaki oleh Allah dilangit sana. Allah memuliakan beliau sesuai kehendak-Nya. Allah memberi beliau wahyu, Allah Berfirman : … “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya” (QS. An-Najm : 11). semoga Allah melimpahkan shalawat dan sallam kepada beliau didunia dan diakhirat.
  40. Adanya Al-Haudh (telaga diakhirat nanti) yang Allah ciptakan untuk memuliakan beliau dan untuk memberikan pertolongan kepada ummat beliau nanti, hal tersebut adalah benar.
  41. Adanya syafaat yang diperuntukkan bagi ummat beliau adalah benar.
  42. Perjanjian yang Allah perjanjikan kepada Adam dan keturunannya adalah benar.
  43. Sejak dulu Allah telah mengetahui berapa jumlah orang yang akan masuk surga dan berapa jumlah orang yang akan masuk neraka, dan jumlah tersebut tidak akan bertambah dan berkurang.
  44. Allah juga mengetahui perbuatan perbuatan yang akan dilakukan hamba-hamba-Nya, setiap manusia akan dimudahkan kepada ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah. amal-amal manusia tergantung diakhir hidupnya, orang yang berbahagia adalah orang yang bahagia menurut ketentuan Allah, dan orang yang celaka juga celaka menurut ketentuan Allah.
  45. Takdir manusia menjadi rahasia Allah semata. takdir tersebut tidak diketahui oleh malaikat yang dekat demgam Allah maupun Rasul yang diutus, membahas dan menyelidiki secara mendalam masalah takdir adalah jalan menuju kehinaan, tangga menuju perbuatan haram, dan termasuk perbuatan yang berlebih-lebihan. oleh karena itu berhati-hatilah dalam membahas, memikirkan, dan memperbincangkannya. Barangsiapa bertanya, “untuk apa Allah berbuat …? berarti orang tersebut menentang ketentuan Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) dan termasuk golongan orang-orang kafir.
  46. Itulah beberapa hal yang dibutuhkan oleh para wali-wali Allah yang terang hatinya, mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang mendalam ilmunya. kita tahu, Ilmu ada dua macam yaitu Ilmu tentang alam nyata dan Ilmu tentang perkara gaib. ingkar terhadap adanya alam nyata termasuk tindakan kekafiran, dan mengaku mengetahui perkara gaib pun termasuk tindakan kekefiran. Iman seseorang tidaklah akan sempurna bila dia tidak mengakui adanya alam nyata dan tidak meninggalkan tindakan mencari-cari pengetahuan tentang alam gaib.
  47. Kami ber-Iman adanya Lauh (mahfuzh), dan segala sesuatu yang telah ditulis didalam Lauh Mahfuzh. sekiranya seluruh makhluk berkumpul untuk merubah suatu kejadian yang telah ditulis oleh Allah agar tidak terjadi, pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, begitu pula sekiranya mereka semuanya berkumpul untuk menjadikan sesuatu yang Allah telah tetapkan tidak terjadi, pasti merekapun tidak akan mampu melakukannya. Telah kering pena untuk menulis segala ketetapan Allah yang bakal terjadi hingga hari kiamat.
  48. Seorang hamba wajib mengetahui bahwa Ilmu Allah mendahului segala makhluk-Nya. Allah telah menentukan taqdir makhluk-Nya itu secara pasti. tidak ada pembatalan, penolakan, penghapusan dan perubahan. tidak ada penambahan dan pengurangan terhadap ketentuan makhluk Allah, baik yang ada dilangit maupun yang ada dibumi. itu merupakan ikatan Iman, dasar-dasar pengetahuan, dan pengakuan terhadap tauhid Uluhiyyah dan Rububiyyah Allah. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman : … “Dia menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukurannya secara rapih.” *QS. Al-Furqon : 2) dan dalam ayat yang lainnya Allah Ta’ala juga telah berfirman : … “Dan ketetapan Allah pasti akan terjadi” (QS. Al-Ahzab : 38) maka celakalah orang yang menjadi musuh Allah dalam masalah taqdir, memperbincangkan masalah taqdir dengan hati yang tidak bersih, mengungkit-ungkit masalah taqdir yang menjadi rahasia Allah dengan prasangkaan belaka. Akhirnya dengan sebab tersebut dia kembali kepada Allah dengan membawa Dosa dan Kedustaan.
  49. Adanya Arsy dan kursi adalah benar.
  50. Dia (Allah) tidak memerlukan Arsy dan apa saja yang ada dibawahnya.
  51. Allah menguasai segala sesuatu dan berada diatas mereka. Dia tidak memberi kepada makhluk-Nya kemampuan menguasai segala sesuatu.
  52. Kami mengatakan bahwa Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. dan benar-benar berkata kepada musa, Perkataan-perkataan tersebut kami katakan dengan penuh keimanan, pembenaran, dan ketundukan.
  53. Kita beriman kepada para Malaikat, para Nabi, Kitab-kitab yang diturunkan kepada para Rasul, dan kami meyakini bahwa para Rasul itu berada dalam kebenaran yang terang benderang.
  54. Kita menyebut para ahli kiblat sebagai orang-orang yang mukmin dan orang-orang muslim selama mereka mengakui dan membenarkan ajaran yang dibawa oleh Nabi Salallahu Alaihi Wa’ Sallam.
  55. Kita tidak boleh membahas secara mendalam tentang Allah dan melakukan debat kusir tentang Agama Allah.
  56. Kita tidak boleh membantah Al-Qur’an. dan kita meyakini bahwa Al-Qur’an adalah perkataan Allah, Tuhan Semesta Alam. Al-Qur’an turun dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin, yang dia ajarkan kepada penghulu para Rasul Muhammad Sallallahu Alaihi Wa’ Sallam, Al-Qur’an adalah perkataan Allah. tidak ada satupun perkataan-perkataan makhluknya yang menyamai perkataan Allah. Kita tidak boleh mengatakan perkatan Allah itu makhluk. Kita tidak boleh menyelisihi jamaah kaum muslimin.
  57. Kita tidak boleh menghukum kafir orang Islam yang melakukan satu dosa selama dia tidak menganggap halalmelakukan perbuatan dosa tersebut.
  58. Kita tidak boleh berkata, …”Dosa tidak membahayakan pelakunya ketika ia mempunyai Iman”.
  59. Kita berharap kepada Allah mengampuni dosa orang-orang mukmin yang berbuat baik dan memasukkan mereka kedalam surga dengan Rahmat-Nya. kita tidak beranggapan bahwa mereka aman dari siksa Allah, dan kita juga tidak bisa memastikan bahwa mereka pasti masuk surga. Kita memohonkan ampunan bagi orang-orang Islam yang melekukan dosa dan kita juga mengkhawatirkan diri mereka akan tertimpa azab. namun kita tidak berputus asa untuk meminta ampunan Allah bagi mereka semua.
  60. Rasa aman dari ancaman Allah dan berputus asa dari ampunan-Nya adalah dua perbuatan yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. sikap yang benar adalah sikap tengah dari kedua sikap tersebut.
  61. Seseorang tidak bisa dikatakan keluar dari Islam kecuali jika dia mengingkari hal-hal yang membuatnya termasuk sebagai orang Islam.
  62. Iman adalah ucapan dengan lisan dan pembenaran dalam hati.
  63. Segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa’ Sallam baik yang berupa syari’at atau penjelasan-penjelasan adalah benar.
  64. Keimanan adalah satu, dan orang-orang yang beriman pada asalnya sama. Mereka akan memperoleh keutamaan apabila mereka mempunyai rasa takut dan takwa (kepada Allah), mau melawan hawa nafsu, dan komitmen terhadap perkara yang utama (Agama).
  65. Orang-orang yang beriman semuanya adalah wali-wali Allah. dan orang-orang yang paling mulia diantara mereka adalah orang-orang yang paling taat dan mengikuti Al-Qur’an.
  66. Keimanan adalah meliputi keimanan kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari akhirat, Takdir dari Allah Ta’ala yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit.
  67. Kita mengimani semua. kita tidak membeda-bedakan setiap Rasul satu dengan yang lainnya, kita membenarkan ajaran-ajaran yang mereka bawa.
  68. Para pelaku dosa besar (dari kalangan ummat Muhammad Sallallahu alaihi Wa’ Sallam) berada dalam neraka. namun mereka tidak kekal didalamnya. bila mereka meninggal dalam keadaan bertauhid. sementara mereka tidak bertaubat dari perbuatan dosa-dosa besar hingga meninggalnya, namun mereka dalam keadaan beriman, maka nasib mereka berada dalam kehendak dan kebijaksanaan Allah, jika Allah menghendaki dengan kebijaksanaan-Nya maka Allah akan mengampuni dan memaafkan dosa mereka, sebagaimana disebutkan dalam Firman-Nya : …” Dan Dia akan mengampuni dosa selain dosa syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. dan bila Allah menghendaki, Dia akan mengazab mereka sesuai dengan keadilan-Nya. kamudian Allah akan mengeluarkan mereka dari neraka karena sifat kasih-Nya dan karena adanya syafaat dari orang-orang yang taat, selanjutnya memasukkan mereka kedalam surga. hal itu karena Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang mengenal-Nya. Dia tidak akan memperlakukan mereka didunia dan diakhirat sebagaimana memperlakukan orang-orang yang tidak mengenal-Nya. yaitu orang-orang yang tidak mau mengikuti petunjuk-Nya dan tidak mengharak ke cintaan-Nya. wahai Allah pemilik dan pemelihara Islam, teguhkan kami dalam memeluk agama Islam sehingga kami dapat berjumpa dengan Engkau.
  69. Kami berpendapat, seseorang boleh dan sah shalat dibelakang imam, baik yang shalih maupun yang fasik dari kalangan ahli kiblat, dan kita juga boleh menshalatkan siapa saja dari kalangan mereka yang meninggal.
  70. Kita tidak boleh memastikan seseorang dari mereka masuk surga.
  71. Kita tidak boleh mengangkat pedang terhadap seorang pun dari ummat Muhammad Sallallahu Alaihi Wa’ Sallam kecuali terhadap orang-orang yang memang wajib diperangi.
  72. Kita juga tidak membolehkan memberontak (membelot) terhadap para Imam dan para penguasa sekalipun mereka berbuat Dzalim. kita juga tidak boleh mendoakan jelek untuk mereka dan berlepas diri dengan tidak taat kepada mereka, kita memandang taat kepada penguasa termasuk bentuk ketaatan kepada Allah.
  73. Kita mengikuti As-Sunnah dan Al-Jama’ah. kita menjauhi sikap-sikap ganjil, perselisihan dan perpecahan.
  74. Kita mencintai orang-orang yang bersikap adil dan amanah, sebaliknya kita membenci orang-orang yang bersifat tidak adil dan tidak amanat.
  75. Kita mengatakan Allahu a’lam dalam perkara-perkara yang ketentuannya masih samar-samar bagi kita semua.
  76. Kita berpendapat bahwa mengusap Khuf disyari’atkan kepada seseorang baik dalam keadaan bepergian maupun dalam keadaan mukim didaerahnya sendiri sebagaimana yang disebutkan didalam atsar.
  77. Haji dan Jihad tetap dilakukan bersama penguasa kaum Muslimin, baik yang shalih maupun yang fasik hingga hari kiamat. dan tidak ada sesuatupun yang membatalkan atau menggugurkan kewajiban Haji dan Jihad.
  78. Kita beriman tentang adanya Kiraman Katibin (malaikat pencatat amal), yang telah Allah tugaskan untuk mengawasi kita.
  79. Kita beriman tentang adanya Malakul Maut (Malaikat Pencabut Nyawa), yang bertugas untuk mencabut nyawa seluruh makhluk.
  80. Kita beriman adanya azab kubur bagi orang yang memang layak mendapatkannya, (kita juga beriman) pertanyaan dari Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir tentang Rabb-nya, Agamanya, dan tentang Nabinya berdasarkan hadits-hadits dari Rasulullah dan atsar para sahabat Ridwanullah ‘Alaihim.
  81. Alam kubur adalah taman-taman surga atau kubangan-kubangan neraka.
  82. Kita beriman dengan hari Ba’ats (Bangkitnya manusia dari kubur) dan balasan amal pada hari kiamat, kita juga mengimani ‘Aradh (Pembeberan segala amal manusia), Hisab (Perhitungan amal), Qira’atulKitab (Pembacaan kitab catatan amal), Tsawab (Pahala), ‘Iqab (siksa), Shirath (Jembatan), dan Mizan (Penimbangan amal manusia).
  83. Surga dan Neraka termasuk makhluk Allah, keduanya tidak akan hancur dan lenyap selama-lamanya. Sesungguhnya AllahTa’ala telah menciptakan surga dan neraka sebelum menciptakan makhluk lain, dan Dia telah menetapkan siapa saja yang akan menjadi penghuninya. Barangsiapa yang dikehendaki-Nya masuk surga, maka Allah akan memasukkannya berdasarkan keutamaan-Nya ; dan Barangsiapa yang dikehendaki-Nya masuk kedalam neraka, maka Allah akan memasukkan berdasarkan keadilan-Nya. Masing-masing akan berbuat sesuai dengan apa yang telah Allah takdirkan, dan akan kembali ketempat yang telah ditentukan untuk mereka (surga atau neraka).
  84. Kebaikan dan kejelekan adalah dua hal yang telah ditetapkan untuk para hamba.
  85. Kemampuan seseorang melakukan suatu perbuatan berasal dari taufik Allah semata yang tidak boleh dinisbatkan kepada makhluk-Nya; dan ini adalah ketika seseorang melakukan perbuatan. Adapun kemampuan dalam arti kesehatan tubuh, potensi, kekuatan, dan normalnya organ-organ tubuh , semua itu ada sebelum seseorang berbuat. kemampuan jenis kedua ini erat kaitannya dengan Firman Allah : … ” Allah tidak akan membebankan kepada seseorang melainkan menurut kemampuannya” (QS. Al-Baqarah : 286).
  86. Amal perbuatan para hamba adalah ciptaan Allah, namun juga merupakan hasil usaha dari mereka sendiri.
  87. Allah tidak akan membebeni mereka melainkan menurut kadar kemampuan mereka, dan merekapun tidak akan mampu melaksanakan melainkan sebatas apa yang telah Allah bebankan kepada mereka. Perkataan tersebut merupakan penjelasan dari perkataan “La Haula Wa La Quwwata illa Billah”. kita meyakini bahwa tidak ada daya, gerakan, upaya menghindar bagi seseorang dari tindakan kemaksiatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan kita juga menyakini bahwa tidak ada kekuatan bagi seseorang untuk selalu mentaati Allah kecuali dengan Taufik dari Allah.
  88. Segala sesuatu berjalan menurut kehendak, Ilmu, ketentuan, dan takdir Allah Ta’ala. Kehendak Allah mengalahkan segala kehendak makhluk-Nya. Ketentuan Allah mengalahkan segala daya dan upaya makhluk-Nya. Allah berbuat sesuai kehendak-Nya, dan Dia tidak pernah bertindak zalim sama sekali. Dia bersih dari segala keburukan dan kebinasaan, dan Dia (Allah) suci dari segala aib dan kejelekan. Allah Berfirman : … “Dia tidak ditanya tentang apa yang telah diperbuatnya tetapi merekalah yang bakal ditanya” (QS. Al-Anbiya : 23).
  89. Do’a dan shadaqah orang yang hidup bisa bermanfaat bagi orang yang sudah mati.
  90. Allah Ta’ala akan mengabulkan Do’a-Do’a hamba-Nya dan akan memenuhi hajat mereka.
  91. Allah pemilik segala sesuatu, sedang Allah tidak dimiliki oleh siapa pun. Tidak boleh kita merasa tidak membutuhkan Allah Ta’ala sekejap pun. Barangsiapa yang merasa tidak membutuhkan Allah, maka dia telah kafir dan menjadi orang yang binasa.
  92. Allah mempunyai sifat marah dan sifat ridha. akan tetapi, sifat marah dan sifat ridha Allah berbeda dengan makhluk-Nya.
  93. Kita mencintai para sahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa ‘Sallam, namun kita tidak berlebih-lebihan dalam mencintai mereka. Kita membenci orang yang membenci para sahabat Nabi dan orang-orang yang menyebut-nyebut kejelekkan mereka. kita hanya akan menyebut-nyebut kebaikan mereka. cinta kepada para sahabat Nabi merupakan bagian dari agama, keimanan, dan keihsanan, sedangkan membenci mereka merupakan kekafiran, kemunafikan dan melampaui batas.
  94. Kita mengakui kekhalifahan sepeninggal Nabi Sallallahu Alaihi Wa’ Sallam. khalifah yang pertama adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, pengangkatan beliau ini dimaksudkan untuk mengutamakan beliau dan menunjukan keunggulan atas semua ummat islam, setelah itu khalifah Umar Bin Khathab, kemudian khalifah Utsman Bin Affan, kemudian Ali Bin Abu Thalib Ridwanullah Alaihim. merekalah yang disebut Al-Khulafa Ar Rasyidin dan para Imam yang mendapatkan petunjuk.
  95. Sepuluh orang sahabat yang disebutkan Nabi dan diberikabar gembira sebagai penghuni surga, kita akui sebagai ahli Jannah berdasarkan persaksian Nabi Sallallahu Alaihi Wa’ Sallam dan perkataan beliau yang benar. mereka adalah : Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Az-Zubair, Sa’ad, Sa’id, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Ubadah bin Al-Jarrah yang merupakan orang terpercaya ummat ini. Allah telah meridhai mereka semua.
  96. Barangsiapa menisbatkan hal-hal yang baik kepada para sahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa’ Sallam, kepada Istri-istri beliau yang suci dari segala kekotoran, dan kepada anak keturunan beliau yang bebas dari najis, maka dia telah terbebas dari sifat munafik.
  97. Para ulama salaf terdahulu (para sahabat) dan yang hidup setelah mereka dari kalangan tabi’in, yang selalu menjunjung tinggi kebaikan dan senantiasa menyebarkan sunnah Nabi, baik yang ahli fikih dan ahli fikir, semuanya tidak kita nisbatkan kepada mereka kecuali hal-hal yang baik-baik saja. barangsiapa yang menisbatkan hal-hal yang jelek kepada mereka, maka dia tidak berada pada jalan mereka (para sahabat).
  98. Kita tidak menganggap ada salah seorang pun diantara para wali Allah yang lebih utama dari paripada para Nabi ‘Alaihis Sallam, kita mengatakan “satu orang Nabi lebih utama dari keseluruhan wali Allah”.
  99. Kita meyakini adanya karomah-karomah pada diri mereka dan segala riwayat yang shahih tentang (karomah) mereka yang dinukil dari para periwayat yang terpercaya.
  100. Kita beriman adanya tanda-tanda kiamat, seperti munculnya Dajjal, dan turunnya Nabi Isa ‘Alaihis Sallam dari langit. kita juga meyakini (tanda kiamat yang lain), yaitu terbitnya matahari dari barat dan munculnya binatang melata dari tempat persembunyiannya.
  101. Kita tidak mempercayai omongan dukun, tukang ramal, dan orang-orang yang mengakui sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma kaum Muslimin.
  102. Kita meyakini bahwa bergabung dengan jama’ah merupakan kebenaran , sedangkan berpecah belah adalah sesat dan azab.
  103. Agama Allah dibumi maupun dilangit adalah satu, yaitu Islam. Allah Ta’ala Berfirman : … “Sesungguhnya Agama yang diridhai oleh Allah hanyalah Islam”. (QS. Al-Imran : 19) Allah juga Berfirman : … “Aku Ridha Islam menjadi Agama kalian”. (QS. Al-Maidah : 3).
  104. Agama Islam berada ditengah-tengah antara sikap berlebih-lebihan dan sifat meremeh-remehkan perkara, antara tindakan Tasybih (menyamakan sifat Allah dengan makhluk), Ta’thil (membuang sifat Allah yang dianggap tidak layak), antara sikap meniadakan kehendak manusia dan yang mengagungkannya, antara sikap meremehkan ancaman Allah dan sifat putus asa dari Rahmat Allah.
  105. Itulah Agama dan keyakinan kita, baik syari’at yang lahir maupun yang batin. kita berlepas diri dari orang-orang yang tidak sehauan dengan apa yang telah kita bahas dan kita jelaskan dan menyerahkan mereka sepenuhnya kepada Allah. kita memoho kepada Allah agar meneguhkan keimanan kita dan mematikan kita dalam keadaan beriman. Kita memohon agar Allah menghindarkan kita dari hawa nafsu yang bermacam-macam, dari pikiran yang bermacam-macam, dan dari kelompuk-kelompok yang sesat, seperti golongan Musyabbihah, Mu’tazilah, Jahmiyah, Jabriyah, Qadariyah, dan lain-lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: